Rumah Adat Panjalin, Warisan Budaya yang Jadi Saksi Bisu Penyebaran Agama Islam di Majalengka

Rumah adat ini di buat erat hubungannya dengan penyebaran agama Islam di Majalengka, juga merupakan syarat dari perkawinan antara nyi Seruni

Rumah Adat Panjalin,  Warisan Budaya yang Jadi Saksi Bisu Penyebaran Agama Islam di Majalengka

MAJALENGKA, INLAHTASIK.COM | Rumah Adat Panjalin yang di bangun pada abad ke 14 adalah salah satu situs yang sudah tercatat di Balai Pelestarian Cagar Budaya Banten (BPCB) Banten dan memiliki nilai historis yang sangat luar biasa juga merupakan satu satunya bentuk rumah adat ini di majalengka yang menjadi tentunya icon Majalengka.

Rumah adat ini di buat erat hubungannya dengan penyebaran agama Islam di Majalengka, juga merupakan syarat dari perkawinan antara nyi Seruni (adalah putri dari pasangan Pangeran Syahroni, prajurit  Cirebon dan Nyi Larasati, prajurit Mataram) dan keturunan kerajaan Talaga, Rd. Sanata ketika sedang mesantren di Pager Gunung di Tuan Raina. Yang ketemu jodo ketika Nyi Seruni sedang mencuci beras di kali Ciwaringin.

Salah satu syarat perkawinan antara Nyi Seruni dan Rd. Sanata adalah membabat alas rotan dan membuatkan rumah yang kini ada sampai sekarang, yakni rumah adat Panjalin.

" Panjalin sendiri arinya rotan, yang kemudian menjadi nama sebuah tempat. Awal pembabatan hutan rotan adalah di daerah prapatan dengan luas 6,5 ha. Yang kemudian pembabatan hutan di lakukan dengan pembakaran sehingga wilayah Panjalin merupakan wilayah terluas di kabupaten Majalengka", ujar I Ang Saiful Ikhsan S.Ag. petugas BPCB Banten.

Rumah adat ini di buat dari satu pohon jati dengan 16 tiang. Yang salah satu tiangnya adalah masih menyambung dengan akarnya.

"Rumah adat Panjalin dibuat dengan filosofi kehidupan yang erat dengan ajaran Islam. Seperti: 16 tiang dan bangunan rumah di atasnya. Terhitung ada 17 poin yang artinya penjabaran dari jumlah rokaat shalat wajib.
 Arti tangga untuk masuk kedalam rumah adalah kehidupan harus selalu meningkat dan setelah diatas jangan lupa melihat ke bawah agar tidak menjadi sombong dan bisa menolong kepada yang di bawah. 
Pintu utama masuk dan pintu masuk ke Kamar bentuknya sama dan mempunyai dua daun pintu yang artinya adalah kehidupan di dunia selalu berpasangan, ada siang ada malam, ada laki2 dan perempuan. Yang memiliki nilai(hak) yang sama. Jendela keluar di Ruang dalam ada tiga yang artinya iman, islam dan ihsan."Jelas I ang. 

Di bagian dalam Bangunan rumah di salah satu ruang, terdapat ukiran dengan 3 macam corak yaitu sebagai simbol bahwa penghuni rumah adalah keturunan dari 3 kerajaan besar yaitu: kerajaan pajajaran, kerajaan Mataram dan kerajaan Cirebon.

Peninggalan lainnya yang masih ada dan masih asli adalah satu buah meja bulat dan satu buah kursi, beberapa keris, tumbak  dan Busur panah, beberapa piring porslen, dan benda bertuah lainnya. kayu yang di keramatkan kayu Kamimang. Kayu kamimang adalah penangkal dari orang yang akan berbuat jahat di buat bingung. Kayu paltuding yaitu kayu penunjuk arah yang di simpan di jalan raya Bandung Cierbon.

Dalam cerita rakyat, Rumah adat pernah dipakai untuk bersembunyi oleh ki Bagus Rangin Ketika perang kedongdong pada tahun 1812 (perang dengan belanda) yang membuat pasukan Belanda tidak melihat siapapun di dalam rumah itu dan kemudian tertidur. Daerah tempat tertidurnya pasukan belanda di namakan blok Pasarean.

"Mari kita jaga, kita lestarikan, pelihara, kita kunjungi dan di kembangkan lagi nilai nilai esteteka seperti yang di tulis di tumah adat " mupus karuhun, megat katurunan. Orang yang melakukan itu adalah orang Munafek", artinya kita harus menghargai karuhun dengan menjaga peninggalannya", pungkas I ang.