Petani Ulat Sutra Tetap Eksis di Masa Pandemi

Kelompok Tani Mardian Putera selain membudi daya dan pembibitan ulat sutra juga langsung memproduksi mulai bahan mentah benang hingga bahan jadi kain sutra sesuai dengan kebutuhan.

Petani Ulat Sutra Tetap Eksis di Masa Pandemi

KAB. TASIK, INILAHTASIK.COM | Meski ditengah pandemi Covid-19. PT Pertamina PGE Area Karaha Kabupaten Tasikmalaya terus berupaya memberikan pembinaan dalam menumbuhkan perekonomian masyarakat khususnya bagi petani di sektor budi daya ulat Sutra.

Salah satunya binaan PT Pertamina PGE Area Karaha adalah Kelompok Tani Mardian Putera yang beralamat di Kampung Karang Anyar 2 Desa Cipondok Kecamatan Sukaresik Kabupaten Tasikmalaya Provinsi Jawa Barat.

Kelompok Tani Mardian Putera selain membudi daya dan pembibitan ulat sutra juga langsung memproduksi mulai bahan mentah benang hingga bahan jadi kain sutra sesuai dengan kebutuhan.

Ketua Kelompok Tani Mardian Putera Budi Daya Ulat Sutra, Holib (49) mengaku pertama kali budi daya Ulat Sutra di awali sejak tahun 1997.  Selama perjalannya mengalami pasang surut. Tetapi pada sekitar tahun 2020 mulai menjadi binaan PT. Pertamina PGE Area Karaha. 

"Sejak menjadi binaan Pertamina alhamdulilah sekarang ini sudah ada 11 pengrajin tenun dalam pengembangan produksi ulat sutra yang dilakukan di rumah nya masing masing, hongga sekarang masih produksi," kata, Holib

Holib meneragkan, sejak mulai pandemi Covid-19 terkendala dengan pasar hingga kini belum maksimal. Tetapi para pengrajin dengan 40 tenun masih tetap bertahan produksi meskipun tidak maksimal, mereka hanya satu unit tenun perminggu dapat menghasilkan dua potong kain sutra di kali 40 sudah 80 potong kain sutra.

Berbeda sebelum pandemi permintaan pasar tidak terpenuhi karena kebanjiran pesanan. Alasan tidak dapat memenuhi proses produksi secara di sulam artinya satu potong kain tenun bisa sampai dua hari,termasuk jarganya pun berpareatif dan fantastis. Kain sutra sulam satu setel itu harganya Rp.1.500 ribu. 

Holib menyebut, marketing 90 persen ke Jakarta pelaku disainer seperti Itang Yunas, Hari Ibrahim dan lainnya,  karena pengunanya kebanyakan dari lalangan menengah keatas. 

Budi daya Ulat Sutra, lanjut Holib, mendapat dua keuntungan selain dari ulat sutra juga keuntungan dari daun Marbai yang bisa dibuat menjadi teh Murbai.

"Kemarin kita juga mendapat bantuan dari PGE Area Karaha untuk pemanfaatan produksi daun murbai yang bisa di jadikan untuk bahan teh murbai," ucapnya

Holib menambahkan, untuk manfaat murbai itu sendiri kalau dilihat dari hasil penelitian secara ril,  tetapi menurut petunjuk dari artikel. 

"Khasiat teh murbai cukup banyak diantaranya menetralisir kadar kolestrol, darah tinggi dan lainnya," tandasnya.

Baca juga: Hebat! Petani Kopi Tasikmalaya Raup 500 Juta