Hebat! Petani Kopi Tasikmalaya Raup 500 Juta

Dari hasil budi daya dan bisnis kopi, lanjut Enjang, satu kali panen atau satu musim, ia sudah mempu mendatangkan penghasilan sekitar Rp.500 juta.

Hebat! Petani Kopi Tasikmalaya Raup 500 Juta

KAB. TASIK, INILAHTASIK.COM | Indonesia salah satu negara yang memiliki kekayaan alam yang sangat melimpah. Selain memiliki kekayaan tambang. Indonesia juga memiliki banyak bukit yang mampu mendatangkan penghasilan bagi para petani.

Seperti halnya para petani Kopi di tiga desa di wilayah Kabupaten Tasikmalaya binaan PT Pertamina PGE Area Karaha.

Ketua Kelompok Tani Mekar Harapan Enjang Ali Asalam (44) mengatakan, kipranya menjadi petani budi daya dan pengusaha kopi, sudah ia geluti sejak tahun 2000. Pada tahun itu, ia mengaku sebagai perintis gerai dan kedai kedai kopi di wilayah Kabupaten Tasikmalaya.

Dari hasil budi daya dan bisnis kopi, lanjut Enjang, satu kali panen atau satu musim, ia sudah mempu mendatangkan penghasilan sekitar Rp.500 juta. 

"Saya bersama kelompok mulai mendapat keuntungan dari hasil budi daya kopi dari mulai tanam berjarak 3 tahun dengan mendapat keuntungan sekitar 500 juta," kata Enjang. Rabu 15 September 2021.

Enjang juga menyebut Kelompok Tani Mekar Harapan Desa Dirgahayu Kecamatan Kadipaten membawahi 3 desa. Mulai Desa Kadipaten, Desa Dirgahayu dan Desa Buniasih dengan garapan seluas 200 hektar. Total pembagian lahan 75 persen milik Perhutani dan 25 persen lahan rakyat.

"Dari 200 hektar kita tanami berbagai jenis pohon kopi salah satunya pohon Kopi Arabika variatas Ateng super, Lini es, Sigalarutang, dan Yelow katerro. Namun lebih dominan kita dengan variatas Ateng Super sesuai dengan kondisi alam tanah yang mengandung abu," kata, Enjang.

Enjang menjelaskan, kopi yang ditanamnya itu diatas ketinggian rata rata sekitar 1000 MDPL. Dari 200 hektar pohon kopi terdiri dari 7 kelompok. Namun yang sudah bisa menghasilkan dan dapat di panen baru seluas 100 hektar, dan masih ada penambahan 100 hektar.

"Dari tanam 200 hektar, 100 hektar per satu kali musim, dan dari tiga kali panen  sudah mampu menghasilkan 35 sampai 50 ton ceri," kata, Enjang sembari melakukan pemeliharaan pohon kopi.

Ia menambahkan, usia pohon kopi yang sudah ditanam dan tumbuh variatif mulai  3-5-12 tahun, dengan jumlah pohon per hektar sebanyak 1500 pohon yang tumbuh di bawah naungan sekitar 40 persen pohon keras Suren dan pohon nangka dapat menghasilkan kualitas dan kuantitas yang cukup baik.

"Dari empat jenis yang terbaik adalah Arabika variatas Ateng super, kaau lini es tidak tahan panas musim kemarau daunya rontok sehingga menghambat pada panen raya," tambahnya.

Kendala lain yang dapat merugikan petani adalah ulat pohon. Namun tidak berdampak banyak, dari 100 pohon, hanya 2 pohon saja yang rusak terkena hama ulat.

"Kalau serapan hasil panen kita ditribusikan sekala besar kita eksportir gabah ke Eropa per tahun gabah kalau di persentasekan 20-25 ton. Sedangkan 35 persen kopi karaha kita pasok ke 500 kedai kopi di Jawa Barat," ujarnnya.

Untuk melihat kualitas kopi, lanjut Enjang, "secara rutin dilakukan uji penelitian di Pusat Penelutian dan Kakal (Puslitkoka) Jember Jawa Timur dan produksi kopi kita mendapat nilai sekor 85,36," pungkasnya.

Baca juga: TASIKMALAYA Warga Senang Wisata Alam Citiis Kembali Buka