Nunu Nuryana, Pelindung Seni Karinding dan Gongti yang Berjuang untuk Lestarikan Warisan Kesenian Sunda

Jan 8, 2024 - 16:02
Jan 8, 2024 - 16:17
Nunu Nuryana, Pelindung Seni Karinding dan Gongti yang Berjuang untuk Lestarikan Warisan Kesenian Sunda

INILAHTASIK.COM | Alat musik tradisional asli dari seni kesenian Sunda yang hampir punah adalah Karinding dan Gongti. Ada seorang seniman Sunda yang berusaha keras untuk mempertahankan kedua alat musik ini, dan dia tidak hanya mahir memainkannya, tetapi juga terampil dalam pembuatannya.

Nunu Nuryana, lahir di Ciamis pada tanggal 08 November 2001, memiliki keahlian dalam memainkan alat musik Karinding dan Gongti. Keahliannya tidak hanya terbatas pada permainan Karinding, tetapi juga meliputi keterampilan dalam pembuatan alat musik tersebut.

Dengan mahirnya, Nunu mampu menghasilkan nada indah melalui Karinding dan Gongti menggunakan bambu. Baik Karinding maupun Gongti dapat dibuat sesuai dengan kebutuhan, baik untuk mengiringi nada pentatonis maupun diatonis.

Setiap hari, Nunu mampu membuat 5 hingga 10 buah Karinding. Pengenalan Nunu terhadap dunia Karinding dan Gongti dimulai pada tahun 2014 bersama dengan Ncep Bilal.

Nunu secara rinci menjelaskan tentang Karinding. Karinding adalah alat musik khas Jawa Barat yang terbuat dari pelepah daun kawung (enau) atau bilahan bambu kecil.

"Asal kata "Karinding" dalam bahasa Sunda berasal dari kata 'ka ra da hyang,' yang artinya diiringi doa sang Maha Kuasa. Ada juga yang mengartikannya sebagai 'ka' (sumber) dan 'rinding' (bunyi)," terang Nunu.

Karinding digunakan sebagai alat untuk mengusir hama di sawah. Suara rendah yang dihasilkan dari getaran jarum Karinding biasanya bersuara rendah (low decibel). Suara ini dihasilkan melalui gesekan pegangan Karinding dan ujung jari yang ditepuk-tepakkan.

"Suaranya mirip dengan suara wereng, belalang, jangkrik, burung, dan sebagainya, yang dikenal sebagai ultrasonik saat ini," ujarnya.

Nunu dapat membuat Karinding dengan variasi 5 hingga 10 buah dalam sehari. Awalnya terlibat dalam dunia Karinding dan Gongti sejak 2014 bersama dengan Ncep Bilal, Nunu memiliki keahlian yang luar biasa dalam memainkan dan membuat alat musik ini.

Karinding memiliki sejarah yang panjang, hadir sejak enam abad yang lalu dan lebih tua daripada alat musik kecapi. Awalnya digunakan sebagai perlengkapan upacara adat atau ritual, kini masih digunakan untuk mengiringi pembacaan rajah.

Abah Olot (nama sebenarnya Endang Sugriwa) dikenal sebagai tokoh awal pengembangan musik Karinding. Dia mengembangkan musik ini dengan memanfaatkan bilah enau atau bambu sebagai perkusi. Menurut Abah Olot, konvensionalnya, ada empat jenis nada atau pirigan dalam memainkan Karinding, yaitu tonggeret, gogondangan, rereogan, dan iring-iringan. Karinding diletakkan di bibir, dan bagian pemukulnya menciptakan resonansi suara.

Karinding dapat dimainkan secara solo atau dalam grup (berisi 2 hingga 5 orang). Salah satu anggota grup disebut pengatur nada atau pengatur ritme. Karinding seringkali dipadukan dengan alat musik lain, dan dalam pertunjukan, beberapa Karinding dimainkan secara bersamaan, disebut Rampak Karinding.

Ada juga istilah Kalinding, singkatan dari Kacapi Suling Karinding, yang merujuk pada kolaborasi beberapa alat musik dalam satu pertunjukan, baik tradisional maupun modern, dan dalam berbagai aliran musik.

Nunu memiliki kemampuan untuk membuat Karinding sesuai dengan nada dasar yang dibutuhkan, meskipun jumlahnya terbatas dalam satu hari. Pembuatan Karinding bukan hanya sekadar menghasilkan suara, tetapi juga melibatkan filosofi dan seni. Perpaduan antara seni, bunyi, dan filosofi memerlukan rasa dan karsa dalam pembuatan Karinding.

"Karinding dan Gongti dapat berkolaborasi dengan berbagai alat musik, baik tradisional maupun modern, serta dalam berbagai aliran musik," tegas Nunu.

Nunu telah tampil di berbagai kota di Indonesia untuk memperkenalkan alat musik tradisional ini, namun sayangnya, kurang mendapatkan dukungan dari pemerintah daerah, khususnya di Ciamis.

"Saya sangat berharap Pemerintah Daerah dapat memberikan dukungan, terutama melalui Dinas Pendidikan, untuk menjadikan pemahaman dan keterampilan memainkan Karinding dan Gongti sebagai bagian dari kurikulum di setiap sekolah. Dengan demikian, seni budaya Sunda diharapkan dapat lestari di kalangan masyarakat," harap Nunu.

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow