Soal Pilrek Unsil, Kehidupan di Universitas Harus Mencerminkan Akal dan Agama

Soal Pilrek Unsil, Kehidupan di Universitas Harus Mencerminkan Akal dan Agama

INILAHTASIK.COM | Saya mencoba menulis catatan ini dengan hati-hati. Berniat untuk memberikan satu pandangan tentang kemajuan dan peran penting perguruan tinggi khususnya universitas. Tulisan tentang hal ini perlu saya tulis di tengah proses pemilihan rektor Universitas Siliwangi. 

Ketika kelalawar tak mampu melihat matahari, bukan berarti bahwa matahari itu tidak ada. Ketika akal tak mampu melihat arah perubahan, bukan berarti bahwa perubahan itu tidak mungkin. Ketika Tjokroaminoto menyampaikan gagasan untuk berpemerintahan sendiri pada tahun 1916,  Soekarno dan para pejuang kemerdekaan dapat memahaminya. Akal dapat melihat, bahwa kejayaan kolonialisme dan imperialisme Belanda dapat dihancurkan hegemoninya. 

Kedudukan akal ini sangat penting, sehingga dengannya manusia mampu mengembangkan kebudayaan dan membangun peradaban. Imam Al Ghazali menyebut akal dalam 4 pengertian, yang tertinggi adalah sebagai sesuatu yang diciptakan dengan tujuan untuk mengenal Allah SWT. Menurut Imam Al Ghazali, manusia dengan akal  dapat memahami persoalan yang rumit, gagasan yang konseptual, membedakan mana yang mustahil dan mungkin, serta menjadi pembeda manusia dengan hewan.  Seluruh pengertian ini dapat dipahami dari akar kata akal dari aql yang bermakna mengikat. 

Sedikit berbeda, ratio dalam penjelasan Kant merujuk kepada kesesuaian dengan hukum alam. Bahwa penentu kebenaran harus mengikuti hukum alam dan dengan cara ini maka manusia mampu membangun kebudayaan dan peradabannya. Hal ini adalah sesuatu yang universal sehingga akan mengantarkan manusia pada kemajuan. 

Penggunaan kata aql maupun ratio menunjukan satu hal yang luhur yang dimiliki oleh manusia. Aql atau mind seperti mata dan agama atau din (dyn) ibarat mentari. Keduanya harus ada dan secara bersama digunakan dengan adil. Ratio memberikan arahan kepada manusia untuk mengikatkan diri pada keajegan hukum alam. Meski setiap yang logis belum tentu rational, namun ratio tetap berkontribusi besar terhadap keluhuran manusia. 

Memahami semua kesimpulan itu didapat seorang manusia melalui pengajaran di peringkat pendidikan tinggi. Universitas, sebagaimana namanya, mengantarkan manusia menjadi manusia yang universal. Manusia yang sampai kepada persoalan-persoalan yang kulli, yang universal. Manusia seperti ini digelari sarjana dan akan mengantarkan masyarakat kepada kebudayaan yang luhur. 

Sarjana akan menempatkan ilmu pengetahuan sebagai sendi terpenting dalam perkembangan masyarakat. Materi/harta dan figuritas dibawah panduan ilmu pengetahuan. Masyarakat seperti inilah yang hidup, dan akan mulai sakit ketika bersendi kepada figuritas, dan mulai sekarat ketika bersendi kepada materi/harta. 

Ilmu pengetahuan secara falsafah bertumpu pada aspek persamaan dan perbedaan. Hal ini sangat mendasar, karena setiap konsep dibangun atas dasar persamaan dan perbedaannya dengan konsep yang lain. Seperti halnya kita dapat membedakan kuda dan rusa karena ada perbedaan dan persamaan antara keduanya. Hal ini menegaskan bahwa perbedaan dalam ilmu pengetahuan sebagai sesuatu yang wajar dan penting untuk pengembangannya. 

Kesimpulan penting yang harus kita ambil ialah bahwa perbedaan dalam kehidupan universitas adalah sesuatu yang wajar dan penting. Akal menjadi kekuatan yang harus dipergunakan untuk mengelolanya. Tujuan akal dan agama (dyn) yang sama memastikan pencapaian dan arah perkembangannya. Maka, seluruh kehidupan di universitas harus mencerminkan hal ini dan ia menjadi pusat bagi komunitas atau masyarakat yang ada di sekitarnya. 

Boleh kita katakan, bahwa institusi yang paling bertanggung jawab terhadap pengembangan masyarakat secara mendasar adalah universitas. Dalam berbagai sejarah, dalam berbagai bangsa dan peradaban, bukti tentang hal itu sangat jelas. Pasca Restorasi Meiji, jepang membangun Imperial Universities. Inggris memiliki golden triangle yakni Oxford, Cambridge, dan London. Amerika Serikat dengan Ancient Eight yang berlokasi di sebelah timur laut negeri tersebut. 

Universitas Siliwangi (Unsil) memiliki nilai yang cukup untuk memulai capaian seperti itu. Semangat Siliwangi atau Silih Wangi merujuk kepada satu cita-cita yang luhur yang menunjukan keadilan dan harapan kemuliaan. Berdasar kepada tradisi lisan, silih wangi adalah hasil daripada silih asah, silih asih, dan silih asuh yang dapat dimaknai sebagai menunjuk kepada esensi atau kekuatan yang ada pada diri manusia. Hal ini menunjukan tiadanya dualitas antara kehidupan pribadi dan masyarakat, karena dihubungkan oleh konsep silih. 

Unsil juga berada di Tasikmalaya yang memuat kandungan historis, sumber daya manusia dan sosial, serta bentang alam yang khas. Tersebut sebagai kota santri, Tasikmalaya memiliki falsafah yang memungkinkan capaian percepatan untuk membangun tradisi dan budaya ilmu yang luhur.  Tasikmalaya tidak sekedar tanah tempat unsil berdiri, namun ia adalah jiwa yang mampu menggerakan berbagai perubahan dan kemajuan. 

Unsil, dengan demikian adalah ruang publik khas yang dimiliki bukan hanya oleh civitas akademikanya saja, namun oleh masyarakat pada umumnya. Cara pandang ini penting untuk tidak menghilangkan peran intelektual sebagaimana yang disebutkan oleh sosiolog Husein Alatas, dan peran masyarakat dalam membangun budaya ilmu. Maka, kini telah cukup jelas, sesungguhnya begitu berat amanat yang dipikul oleh rektor dalam menjalankan kepemimpinan universitas. 

Proses pemilihan rektor Unsil yang kini tengah berlangsung sesungguhnya adalah perhelatan suci yang berkaitan bukan hanya dengan tugas negara, namun juga terkait erat dengan tugas kemanusian dan kebudayaan. Ia terkait erat dengan keberlanjutan  misi kenabian untuk menjaga umat manusia agar tidak terlepas dari ilmu pengetahuan. Maka, perlu kita tempatkan proses ini pada tempatnya yang wajar dan layak yang menunjukan keluhuran akal dan ilmu pengetahuan yang dengannya persamaan dan perbedaan menjadi sesuatu yang wajar dan penting. 

Perlu ruang dan waktu untuk semua itu. Bahkan perlu daya tahan untuk melewatinya. Berbekal niat dan ketulusan jiwa, dengan ikhtiar sebagai jalannya, semoga Allah memberikan yang terbaik untuk kita semua. Ini hanyalah sekedar tulisan singkat yang ditulis dengan harapan para pembaca dapat mengambil manfaatnya.  Semoga Allah meridhoi. 

Penulis:

Randi Muchariman 
Dosen FISIP Universitas Siliwangi
Tasikmalaya, 11 Januari 2022