Produksi Jamur Merang ala Ponpes Raudlatul Irfan Menjanjikan

Saat ini produksi harian jamur merang pesantren berkisar di angka 80-100 kilogram (kg) per hari, sementara harga jual dibanderol Rp 35-40 ribu per kg.

Produksi Jamur Merang ala Ponpes Raudlatul Irfan Menjanjikan

KAB. CIAMIS, INILAHTASIK.COM | Pondok Pesantren Raudlatul Irfan, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, salah satu ponpes yang tampak telaten menggeluti usaha berupa pengolahan limbah serabut aren untuk media jamur merang.

Produksi jamur merang dengan memanfaatkan limbah tersebut selain memiliki harga yang potensial, juga sebagi solusi dalam menyelesaikan persoalan lingkungan.

Demikian diungkapkan Pengasuh Ponpes Raudlatul Irfan, Dr. Irfan Soleh kepada wartawan saat menerima kunjungan Kpw Bank Indonesia Tasikmalaya pada Selasa 05 Juli 2022.

Kiai muda yang satu ini memang pengecualian. Selain faham urusan agama dengan mengelola sekitar 200 santri di pesantren, Irfan yang lulusan doktor itu pintar mencari cuan usaha, dengan membuat jamur kemasan kaleng untuk menghidupi santri dan lingkungan masyarakat sekitar.

Ia menyebut, jamur kalengan ini tersebar ke seluruh pasar termasuk pasar modern dan supermarket.

Irfan pun memaparkan ide awal pengolahan jamur merang kemasan kalengnya itu dirintis sejak 2015 lalu saat melihat besarnya potensi limbah serabut yang dibuang semata tanpa menghasilkan nilai tambah.

"Ini jelas sebuah tantangan kenapa tidak kita coba menjadi sesuatu. Kami belajar secara otodidak soal jamur hingga ke Yogjakarta meskipun itu medianya jerami," katanya.

Walhasil, potensi limbah serabut aren di Kampung Kubang, Kampung Bojong Renged dan Kampung Cilengkrang, Desa Kertaharja, Kecamatan Cijeungjing, yang sejak lama dikenal sebagai daerah pengolahan tepung aren, akhirnya diolah menjadi media tanam jamur merang.

"Kami hanya menggunakan bahan baku serabut aren, kapur dan dedak plus bibit jamur merang," ucap Irfan.

Dalam prakteknya, limbah serabut aren yang telah dipilah, kemudian dicampur dengan bahan dedak dan kapur, yang akan digunakan sebagi media tanam bibit jamur merang untuk berkembang.

"Total dari awal pembuatan hingga panen jamur sekitar 40 hari," imbuhnya.

Saat ini produksi harian jamur merang pesantren berkisar di angka 80-100 kilogram (kg) per hari, sementara harga jual dibanderol Rp 35-40 ribu per kg.

"Kurang lebih pendapatan kami sekitar 80 juta per bulan atau sekitar Rp 300 jutaan per tahun," sebutnya.

Irfan memahami, ancaman kebusukan jamur merang yang memiliki siklus hidup hanya 8 jam ini terbilang tinggi, sehingga memeras otaknya untuk menghasilkan produk jamur dalam kemasan kaleng.

"Dengan kemasan kaleng ini jamur merang bisa bertahan hingga enam bulan tanpa perubahan kualitas," katanya.

Selain menghasilkan harga jual yang tinggi, lanjut Irfan, hadirnya jamur merang dalam kemasan kaleng menjadi hal baru bagi penyuka jamur tanah air.

"Untuk media serabut aren, mungkin kami satu-satunya di Indonesia, yang lain kebanyakan menggunakan jerami," terangnya

Meskipun produksi jamur merang kaleng pesantren ini masih terbatas, namun produk mereka sudah merambah beberapa daerah di wilayah Bandung, Tasikmalaya, Kota Banjar dan sekitarnya.

"Ada banyak nilai tambah yang dihasilkan selain bagi pesantren dengan penambahan fasilitas belajar santri, juga buat masyarakat sekitar," kata dia.

Melihat besarnya peluang jualan komoditas jamur merang, Irfan berencana memperluas produksi jamur merang dengan melibatkan masyarakat sekitar, setelah proses perizinan produksi jamur kemasan seluruhnya dikantongi.

"Kita akan membuat mitra masyarakat membuat kumbung jamurnya, kita kasih modal kita terima barangnya gitu," ucapnya.

Sementara itu, Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Tasikmalaya, Nurtjipto mengapresiasi ikhtiar pengolahan limbah lingkungan yang dilakukan pesantren Raudlatul Irfan, untuk menghasilkan produk bernilai tambah tinggi.

"Sangat luar biasa tidak hanya ngasih (keuntungan) tapi juga ada upaya-upaya yang dapat di kalangan Pesantren dalam pengolahan limbah," ungkapnya.

Ia menururkan bahwa pengolahan limbah menjadi produk bari, sejalan dengan upaya pemerintah dalam menggairahkan pemberdayaan ekonomi di lingkungan pesantren.

"Tidak hanya menjadi media tanam jamur, itu nanti juga tetep dimanfaatkan sebagai pupuk," jelasnya.

Untuk membantu mereka, tak mengherankan BI KPw Tasikmalaya memberikan bantuan fasilitas mesin produksi pengolahan jamur merang, hingga menjadi produk kemasan bernilai tinggi.

"Semoga jangkauan pasarnya menjadi lebih luas seiring peningkatan produksi," pungkasnya.