Makom Leluhur Murid Sunan Bonang di Tasikmalaya

Ada empat sosok yang diyakini sebagai murid dari Sunan Bonang, dengan tokoh sentralnya Eyang Panita Mukti, Eyang Jalak Mangprang, Nyi Siti Mutiara, dan Beledug Hawu.

Makom Leluhur Murid Sunan Bonang di Tasikmalaya

KOTA TASIK, INILAHTASIK.COM | Raden Maulana Makdum Ibrahim atau yang lebih populer disebut Sunan Bonang. Ia adalah satu dari Sembilan Wali Alloh penyebar Agama Islam di Nusantara. Sunan Bonang merupakan putra Sunan Ampel dan Nyai Ageng Manila. 

Beliau diketahui memiliki Pesantren di wilayah Tuban Jawa Timur, sebagai pusat dakwahnya. Salah satu cara pendekatan dalam penyebaran Agama Islam melalui seni dan budaya. 

Sunan Bonang diketahui memiliki banyak santri (murid). Sepeninggal beliau, kemudian para santrinya menyebar kesejumlah wilayah, salah satunya ke Tasikmalaya. 

Hal itu diperkuat dengan adanya bukti peninggalan sejarah berupa Makom Keramat yang diyakini sebagai murid dari Sunan Bonang, lokasinya berada di Kampung Bonang yang kini sudah berubah nama jadi Kampung Bondan Kelurahan Sukajaya Kecamatan Bungursari Kota Tasikmalaya. 

Ada empat sosok yang diyakini sebagai murid dari Sunan Bonang, dengan tokoh sentralnya Eyang Panita Mukti, Eyang Jalak Mangprang, Nyi Siti Mutiara, dan Beledug Hawu. 

Berdasarkan cerita warga disekitar lokasi, mereka kerap mendapati sejumlah keanehan dari keberadaan makom tersebut. Misal adanya hembusan angin kencang yang hanya terjadi di area makom. Konon itu menjadi sebuah pertanda akan terjadi sebuah peristiwa. 

Selain itu, warga sekitar juga kerap mendengar adanya aktivitas yang memainkan alat musik Bonang. Bahkan suaranya terdengar hingga ke kampung tetangga. Tak jarang, siang harinya, warga kampung sebelah datang berkunjung ke lokasi sekitar makom, untuk sekedar mempertanyakan sudah ada acara apa. 

Tak hanya itu, warga juga kerap mendapati benda-benda yang diyakini sebagai pusaka dari sosok karuhun yang ada di lokasi tersebut, seperti Selendang, Keris, dan Blangkon. 

Terlepas dari ragam cerita yang diungkapkan warga tentang sosok keempat kahurun tersebut, satu hal yang perlu diingat, mereka turut serta membangun pradaban Agama Islam di Tasikmalaya khususnya, yang patut kita jaga dan kita lestarikan, karena bagaimana pun, Kita Ada Karena Sejarah.