Kemenkes Tekan Stunting Hingga ke Desa

Kemenkes Tekan Stunting Hingga ke Desa
Net

JAKARTA, INILAHTASIK.COM | Stunting masih menjadi masalah kesehatan yang cukup serius di Indonesia. Berdasarkan Data terbaru dari Survei Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI) angka stunting Indonesia mencapai 24,4% di 2021.

Angka yang masih tergolong tinggi ini tentu membahayakan bagi kesehatan anak. Sebab stunting menyumbang 15 sampai 17 % dari kasus kematian anak. Bagi anak-anak yang menderita stunting juga bisa memberikan efek jangka panjang yang cukup serius.

Ketika menginjak usia dewasa, anak-anak yang saat ini menderita stunting bisa kehilangan penghasilan mereka sebanyak 20% dan bisa membawa mereka untuk berada di bawah garis kemiskinan.

Salah satu penyebabnya yakni karena anak-anak kurang mendapatkan asupan gizi yang sesuai di 1.000 hari pertama kehidupan. Efeknya, perkembangan tubuh anak-anak menjadi lebih pendek dan dibawah standar tinggi balita pada umumnya.

Untuk memecahkan masalah tersebut tentu perlu dukungan dari semua pihak. Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi menyiapkan sejumlah dana untuk membangun program prioritas penanggulangan stunting di desa.

Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Mendes PDTT) Abdul Halim telah mengucurkan anggaran desa senilai Rp 11,3 triliun untuk menanggulangi stunting selama 2 tahun terakhir.

"Sejak 2019 hingga 2020 saja setidaknya sudah ada Rp 11,3 triliun dana desa dialokasikan untuk penanggulangan stunting. Total anggaran ini dipastikan bertambah karena tahun ini juga banyak anggaran yang kita kucurkan untuk meminimalkan angka stunting di desa-desa di Indonesia," ujar Halim seperti dikutip dari detikcom.

Selain itu, pihaknya membangun sejumlah program strategis untuk mencegah stunting di desa.