Bahaya Pembelajaran Jarak Jauh Jika Diteruskan

PPJ merupakan kegiatan belajar mengajar yang diterapkan pada masa pandemi COVID-19 memang tidak efekif dan metode ini justru disebut berbahaya jika terus dilanjutkan.

Bahaya Pembelajaran Jarak Jauh Jika Diteruskan

INILAHTASIK.COM | Sejak pandemi COVID-19 satu tahun yang lalu, seluruh pelajar di Indonesia terpaksa melakukan kegiatan belajar dari rumah. Kegiatan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dilakukan dngan mengandalkan koneksi internet.

PPJ merupakan kegiatan belajar mengajar yang diterapkan pada masa pandemi COVID-19 memang tidak efekif dan metode ini justru disebut berbahaya jika terus dilanjutkan.

Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Ristek dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Makarim mengatakan ada ancaman di balik berjalannya PJJ. Pembelajaran Jarak Jauh dinilai membuat para murid mengalami learning loss.

Learning loss merupakan ketertinggalan pelajaran yang berisiko dialami oleh para murid. Hal ini dikhawatirkan akan menjadi efek negatif yang permanen karena para murid tak kunjung mendapatkan pembelajaran tatap muka yang lebih ideal.

"Dampak terlalu lama PJJ ini lumayan membahayakan kalau kita lanjutkan lebih lama lagi. Saya sangat cemas dengan dampak permanen daripada PJJ," kata Nadiem dalam program #Chatroom yang disiarkan Instagram Jumat 3 September 2021.

Efek tersebut kemungkinan besar akan mempengaruhi para pelajar di daerah-daerah terpencil. Masyarakat di pelosok Tanah Air biasanya belum memiliki fasilitas internet dan teknologi informasi yang memadai untuk belajar.

Tak hanya berpengaruh pada proses penyerapan pelajaran, para murid juga berisiko mengalami gangguan pada kesehatan mental mereka. Meski masih tetap dapat belajar, metode PJJ tidak bisa mempertemukan siswa secara langsung.

Kurangnya interaksi antara para siswa tak memungkiri membuat mereka kesepian. Tak hanya itu, Nadiem Makarim juga menyebut banyak anak-anak yang terpaksa putus sekolah karena PJJ.

Saat ini Indonesia dinilai sudah terlalu lama menjalankan pembelajaran jarak jauh. Bahkan Nadiem Makarim menyebut Indonesia sebagai negara yang paling lama melakukannya.

Oleh karena itu, pemerintah Indonesia mulai kembali melakukan kegiatan pembelajaran tatap muka (PTM) secara bertahap. PTM Terbatas mulai dilakukan di beberapa daerah, termasuk Jakarta pada 30 Agustus lalu.

Kebijakan tersebut berlaku sejak peraturan PPKM yang sudah menurun ke level 3. PTM Terbatas berlaku di tahapan tingkat pendidikan SD, SMP, dan SMA.**

Baca juga: PTMT Dilakukan Lebih Awal, SMPN 1 Tasikmalaya Jadi Sekolah Percontohan