Taman Kota Sejarah Kita

Seyogyanya taman taman yang ada di kota manifestasi atau cerminan budaya. 

Taman Kota Sejarah Kita

INILAHASIK.COM | Ketika taman-taman yang ada di Kota Tasikmalaya kehilangan konsep maka rusaklah  landscape Kota Tasikmalaya sebagai etalase budaya di Priangan Timur, seyogyanya taman taman yang ada di kota manifestasi atau cerminan budaya. 

Sebaliknya taman-taman yang ada di kota sepertinya kehilangan aura misal taman depan mesjid agung dengan payung gede Songsongnya, (payung nutup) yang dulunya pemberian dari ratu wilhelmina buat para bupati yang berprestasi simbol prestasi dan lambang kebesaran (berbentuk Pin) lalu dengan para gegedén diperbesar sebagai penghormatan balik kepada yang memberi. 

Kalau melihat sekelumit sejarah payung gede songsong tidaklah cocok jikalau di pasang di ruang terbuka. (Kecuali bisa di buka) jelas itu multipungsi, untuk berteduh jika panas atau hujan,. 

Seandainya payung gede songsong di pasang di pusat pemerintahan atau di ruangan-ruangan walikota, dan kantor kantor dinas, mungkin auranya akan terasa, bahwa payung gede songsong mempunyai daya magnet yang lain. 

Bergeser sedikit ke sebelah timur di situ ada Taman alun-alun dengan gemerlap cahaya yang "Buricak burinong" sepintas terkesan seperti ajang bermain anak anak dengan cahaya yang warna warni, tanpa memperhitungkan artistik apalagi estetika. 

Padahal di sudut taman ada panggung terbuka, kenapa itu tidak di berdayakan. Kepada dinas yang mengurusi taman jangan tanggung kalau menggarap taman, kelihatan ini all out berkesan pencittaan saja. 

Coba bikin kalender atau agenda minimal satu minggu satu kali, diskusi dari mulai sosial politik hukum sekaligus pembelajaran untuk masyarakat, musik, seni seni apapun untuk mengisi panggung, tentu saja yang bersandar pada khasanah ke-Tasikan. 

Jangan sampai arogansi dinas yang dimuculkan, persolan budaya bukan saja kerjaan Dinas Disporabudpar, yang memang sudah mandul dan keberpihakan kepada budaya setengah hati. Buktinya sampai detik ini perda kebudayaan sama sekali tidak di perjuangkan padahal perda ini sangat penting (red). 

Jangan terlalu! Belum lagi taman Dadaha, seperti wilayah yang di anak tirikan  sama sekali tidak tersentuh alias tidak terurus. Padahal dadaha adalah magnet Kota Tasikmalaya. Harus ada perlakuan khusus, sebab dadaha selain paru paru kota (hutan kota atau zona hijau) dadaha adalah ruang publik yang terkenal di Jawa Barat bahkan Indonesia. 

Terbukti gelaran-gelaran atau acara yang nasional bahkan internasional, komplek Dadaha yang menjadi lokusnya. Sisi lain nama Dadaha itu mempunyai cerita sejarah yang mumpuni.  

Perayaan sederhana, kenapa Dadaha sampai terbengkalai seperti itu. jawabannya keberpihakan pemerintah yang setengah hati cenderung ambigu. Saling tarik menarik kepentingan antar dinas, ini yang menyebabkan Kota Tasikmalaya terlihat terbata bata, budaya cari muka ke penguasa hal yang utama padahal sudah punya muka!

Ruang (ruang publik) bukan hanya memuji-muji kesucian estetika belaka tapi perhitungan kesejarahan, sosiologi, antropologi bahkan ke persolan fungsi dan realitas kongkret yang di potret lewat kacamata semiotik, harus jadi perhitungkan dalam bekerja yang menyangkut dengan wajah kota. Cag!

Oleh : Tatang Pahat