Mewujudkan Sinergitas Hakiki Atasi Banjir

Jan 30, 2024 - 17:17
Jan 30, 2024 - 17:18
Mewujudkan Sinergitas Hakiki Atasi Banjir

INILAHTASIK.COM | Seolah sudah menjadi hal yang lumrah ketika memasuki musim hujan, masyarakat dihadapkan dengan banjir di berbagai wilayah di Indonesia. Tak terkecuali di beberapa tempat di wilayah Jawa Barat. 

Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), banjir merupakan kondisi terendamnya suatu kawasan dikarenakan meningkatnya volume air. 

Menurutnya, banjir air biasa, hanya menggenangi sebagian wilayah, dan tidak membahayakan. 

Akan tetapi ada beberapa banjir yang perlu diketahui penyebabnya, seperti banjir rob yang diakibatkan oleh air pasang yang meluap, banjir bandang yang datang tiba-tiba dengan debit air besar, disertai dengan bebatuan dan lumpur dan banjir lumpur yaitu banjir yang terjadi akibat keluarnya lumpur dan gas berbahaya dari dalam bumi. 

Mengawali tahun 2024, dalam dua pekan kemarin beberapa wilayah di Jawa Barat alami banjir. 

Di Karawang, banjir telah merendam 53 hektare sawah di tiga kecamatan, yakni kecamatan Telukjambe Barat, Telukjambe Timur, dan Ciampel. Banjir ini dikarenakan meluapnya sungai Cibeet dan Citarum (AntaraJabar.com 14/1/2024).

Berbeda dengan banjir yang terjadi di Subang (7/1/2024). DetikJabar.com mengabarkan bahwa 2 orang telah meninggal akibat longsor di kawasan wisata Cipondok Subang. Menurut penelitian sementara, longsor disebabkan oleh banjir bandang (debris flow) pada sungai Cipunegara. 

Selain di Karawang dan Subang, banjir pun melanda sejumlah wilayah di Bandung. 

Berangkat dari fenomena banjir ini, berbagai upaya dilakukan pemerintah. Mulai dari penyaluran bantuan kepada korban bencana berupa pakaian, sembako, air mineral. Maupun berbagai sinergitas yang dilakukan pemerintah beserta masyarakat guna atasi banjir. 

Seperti melansir dari Tintahijau.com, 15 Januari 2024, yang mengabarkan sejumlah elemen pemerintah dan organisasi masyarakat yang bersinergi mengadakan kerja bakti membersihkan eceng yang ada di sungai-sungai, dan penanaman pohon di beberapa tempat. 

Menurut Kapolres Subang, hal tersebut bertujuan memberikan contoh kepada masyarakat, bahwa betapa pentingnya menjaga kebersihan sungai untuk mengurangi potensi banjir. 

Sejatinya air hujan merupakan rahmat dari Allah SWT. Akan tetapi akan menjadi bencana, ketika air hujan tersebut berakibat banjir yang menyisakan duka dan penderitaan. 

Bencana tersebut lahir dari sebuah tata kelola kehidupan yang banyak mengundang murka Allah SWT. 

Dalam tata kelola kehidupan ini, manusia yang membuat hukum dan kebijakan-kebijakan. Akan tetapi, hukum dan kebijakan tersebut banyak berpihak kepada sekelompok orang atau para pemilik modal, bukan berpihak pada rakyat. 

Dengan kebijakan tersebut mereka tanpa ragu mengeksploitasi sumber daya alam dan merusak lingkungan. Banyak lahan yang beralih fungsi jadi perumahan, industri, juga tempat wisata, tanpa memikirkan lingkungan sekitar dan dampaknya. 

Semua mereka lakukan, karena orientasi dari tata kelola kehidupan seperti ini adalah mencari kepuasan materi dan jasadiyah.

Persoalan banjir dan bencana alam lainnya tak mampu disudahi hanya dengan penyaluran bantuan, ataupun berbagai sinergitas tambal sulam guna atasi banjir. 

Sebab, Allah SWT mengingatkan kita dalam Al-Quran surat Ar-Rum ayat 41, yang artinya:

"Telah tampak kerusakan di darat dan di laut karena perbuatan tangan manusia, Alloh menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)".

Ayat di atas menjelaskan bahwa segala kerusakan baik berupa bencana banjir, longsor dan kerusakan lainnya di muka bumi ini, akibat dari manusia mencampakkan aturan Allah. 

Padahal Allah SWT begitu sayangnya kepada umatNya. Dia membuat aturan yang terkumpul dalam al-quran untuk manusia taati. 

Mirisnya, hari ini manusia cenderung memilih diatur oleh aturan manusia yang mereka anggap ga ribet, dan bisa dinegosiasi sesuai kepentingan. 

Oleh karena itu guna menuntaskan problem banjir berulang dan kerusakan lainnya di muka bumi ini, saatnya kita untuk bermuhasabah memohon ampunanNya. 

Selain ini kita wujudkan sinergitas hakiki tuntaskan problematika hidup, yakni dengan terus memahamkan umat bahwa jika kita hidup diatur dengan aturan Allah secara keseluruhan maka kesejahteraan, keberkahan, dan keselamatan dunia dan akhirat akan didapat. 

Penerapan aturan Islam secara keseluruhan bisa dijalankan dalam negara yang menerapkan sistem islam. 

Sebab, negara dalam islam adalah junnah (pelindung) umat. Dalam hal ini negara akan mengelola tanah atau lahan sesuai dengan syari'at islam. 

Berbagai upaya baik preventif maupun kuratif dan rehabilitasi terbaik akan dilakukan guna mencegah terjadinya banjir. 

Upaya-upaya tersebut diantaranya dengan menetapkan kebijakan pembangunan yang ramah lingkungan. Pembangunan infrastruktur akan diprioritaskan dalam mencegah banjir seperti; bendungan, kanal, tanggul serta reboisasi (penanaman kembali). 

Negara juga akan menerapkan sanksi tegas bagi siapa pun yang melanggar. 

Adapun jika terjadi bencana, negara memiliki badan khusus sigap bencana yaitu biro At-Thawari. Mereka dilengkapi peralatan berat, evakuasi, pengobatan dan alat-alat yang dibutuhkan untuk menanggulangi banjir.

Demikian kehebatan sistem islam dalam menangani banjir, dan tak akan sistem lain mampu melakukannya. 

wallahua'lam.

Oleh: Yayat Rohayati

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow