Tak Diduga! Stunting di Kota Tasik Capai 14,81 Persen

Pemerintah pusat melalui BKKBN tengah konsen menekan stunting melalui upaya prefentif.

Tak Diduga! Stunting di Kota Tasik Capai 14,81 Persen

KOTA TASIK, INILAHTASIK.COM | Anggota Komisi IX DPR RI minta Pemkot Tasikmalaya untuk melakukan mentritmen langsung, terhadap anak yang terindikasi stunting. Sebab, ketika sudah memasuki fase kronis, sulit untuk dikembalikan dan akan terbawa hingga dewasa. 

Hal itu ditekankan Anggota Komisi IX DPR RI Hj Nurhayati, dalam sosialisasi program penurunan stunting, di Jalan Mashudi, Selasa 08 Agustus 2022. 

Ia menyebut, pemerintah pusat melalui BKKBN tengah konsen menekan stunting melalui upaya prefentif. Supaya di beberapa daerah terutama Kota Tasikmalaya yang angka bayi stuntingnya relatif tinggi bisa ditekan agar tidak bertambah. 

“Kita ketahui angka stunting di Kota Tasik mencapai 14,81 persen, dan itu mesti segera diklasifikasi, apakah sudah kronis atau memang masih potensi berisiko ke arah stunting kronis. Nah itu, dipilah dan tritmen yang dilakukan pun tentu berbeda tiap kasusnya,” tutur Nurhayati.

Menurutnya penyebab bayi stunting bisa dari beragam faktor. Mulai dari pola asuh dan bimbingan orangtua, sampai kondisi lingkungan yang tidak mendukung sehingga menyebabkan tumbuh kembang bayi tidak optimal. 

“Kita ketahui perlu edukasi masif, dimana masyarakat sekarang ada yang mulai malas ke posyandu atau puskesmas, terkadang ada yang malu ketika bayinya terlihat tidak normal," ujar Nurhayati.

"Kami di pusat tengah serius, bekerjasama dengan TNI Polri, jadi bapak dan bunda asuh, untuk menangani stunting hingga ke level desa, agar generasi ke depan tidak terjadi lagi stunting,” tambahnya.

Pihaknya juga menekankan pemerintah daerah, untuk melakukan pendataan dan memastikan jumlah stunting secara akurat. Supaya dalam melakukan tritmen terhadap bayi yang terlanjur stunting bisa lebih cepat.

“Jadi ketika terdeteksi, bisa segera di tritmen, jika berasal dari keluarga tak mampu, berharap bisa dibantu Pemda, karena itu bukan penyakit dan bisa diatasi sebelum bayi mencapai usia 2 tahun,” harapnya.

Ia menambahkan, pemkot pun tengah gencar memperhatikan urusan sanitasi dan lingkungan. Hal itu merupakan upaya mencegah stunting, yang disebabkan kondisi lingkungan tidak memadai. 

“Lingkungan tak sehat, sanitasi tak layak, lingkungan tidak mendukung dan gaya hidup tak sehat. Disamping, penyebab spesifik seperti asupan nutrisi yang kurang. Pola asuh pun bisa memicu terjadi stunting,” bebernya.

Sementara itu, Sekretaris Daerah H Ivan Dicksa, mengakui stunting di Kota Tasik berkisar di angka 14 persen, memang cukup tinggi, tapi tidak masuk dalam ketegori tertinggi. 

Kondisi tersebut, lanjut Ivan, menjadi tantangan bagi daerah, terutama menggencarkan edukasi kepada para orang tua sampai calon orang tua yang hendak menikah. 

“Bagaimana asupan gizi yang baik ketika hamil sampai melahirkan. Tidak berarti makanan bergizi itu mahal, namun bagaimana keseimbangan gizi dijaga,” katanya.

Ivan menekankan hal itu mesti disosialisasikan secara masif oleh OPD dan stakeholder terkait. Saat ini Pemkot pun tengah menggencarkan melakukan penyuluhan, pembekalan dan monitoring pasangan yang hendak menikah sampai ibu hamil. 

“Nah kesadaran-kesadaran dari masyarakat juga penting, supaya saat ada indikasi bayi stunting bisa dicegah selama proses kehamilan atau bahkan proses pertumbuhan sebelum tengat usia tertentu,” tandasnya.