K-TPS, Penanganan Sampah Tak Bisa Sporatis, Tentatif,  dan Tergesa-gesa

Pemkot Tasikmalaya dinilai tak berpihak terhadap lingkungan.

K-TPS, Penanganan Sampah Tak Bisa Sporatis, Tentatif,  dan Tergesa-gesa

KOTA TASIK, INILAHTASIK.COM | Statement Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Tasikmalaya H Deni Diyana yang mengeluhkan minimnya perhatian dari Pemkot, mendapat komentar beragam dari warga. Pasalnya hal itu menandakan, bahwa Pemkot Tasikmalaya dinilai tak berpihak terhadap lingkungan.

Salah satunya dilontarkan Ketua Komunitas Tukang Pungut Sampah atau K-TPS, Irwan Supriadi Iwok menilai bahwa statement kepala dinas LH sama halnya menegaskan bahwa Pemkot Kota Tasikmalaya Minim Perhatian Terhadap Lingkungan.

"Dari pernyataan tersebut, masyarakat menyimpulkan seolah wali kota Tasik ini tidak ada keberpihakan terhadap lingkungan, khususnya sampah," ungkapnya kepada inilahtasik.com, Kamis 12 Mei 2022.

Menurutnya, perlu diluruskan terkait dengan statement tersebut, supaya tidak terjadi multitafsir. Artinya pernyataan yang disampaikan Kadis LH itu mewakili pemkot secara kelembagaan atau mewakili personal yang kecenderungan berbau politis ? 

Tapi, entahlah! Yang pasti sebuah kewajaran bila masyarakat membutuhkan keberpihakan pemerintah dalam pelayanan penanganan dan pengelolaan sampah. tegas Iwok.

Pertanyaannya kenapa demikian? Sangat simple, masyarakat sedikit besarnya sudah memenuhi kewajiban dengan membayar retribusi sampah, maka sebuah keniscayaan jika masyarakat mempertanyakan ihwal penanganannya alias komplain. 

Ia menyebut, penanganan sampah tidak bisa sporatis, tentatif,  dan tergesa gesa, harus ada kajian secara komprehensif, tentu saja dengan melibatkan elemen masyarakat, komunitas, LSM, Ormas, OKP, dan Akademisi. 

"Persoalan sampah itu persoalan kita semua. Keberpihakan pemerintah perihal sampah dapat dituangkan dengan mengeluarkan regulasi berkenaan dengan hal itu," ujarnya.

Mari kita lihat fenomena sampah di Kota Tasikmalaya. Mulai dari pengangkutan sampah oleh armada khusus. Kemudian terkesan asal buang dan ditumpuk begitu saja di tempat yang sudah tersedia (TPA). 

Celakanya, kata Iwok, sampah yang di buang itu tidak diolah, bahkan dibiarkan begitu saja. Inilah yang jadi salah satu persoalan hari ini, sehingga sampah itu terus menumpuk dan menjadi bukit sampah. Itulah pemandangan yang bisa kita lihat di tempat pembuangan akhir sampah. 

Akibatnya, lanjut Iwok, akses jalan terganggu, masyarakat  sekitar lokasi TPA mulai terteror oleh bau yang tidak sedap, belum lagi lalat yang membawa sumber penyakit. Pemandangan itulah yang selama ini masyarakat lihat dan rasakan.  

Ia menambahkan, perlu ada penanganan khusus menyikapi persoalan sampah ini. Misalnya, sampah rumah tangga, pertanian, perkantoran, perusahaan, rumah sakit, pasar, dan lainnya, harus dibedakan cara penanganannya. 

Iwok mengingatkan dampak dari sampah yang berserakan, terutama pada tumpukan atau gunungan sampah yang berlebih, karena itu dapat menyebabkan tumbuhnya organ-organ bakteri jahat yang membahayakan, termasuk pencemaran udara, tanah dan air. 

"Dampak dari pengelolaan sampah yang tidak efektif ini, dapat mengancam kesehatan, pun terhadap keberlangsungan hajat hidup masyarakat, dan bisa jadi petaka lingkungan, alam Sekitar termasuk manusia di dalamnya," tandasnya.